BBCIndonesia.com | Berita Dunia | Indonesian News index

KOMPAS.com

Bagi SAHABAT

sains news

Rabu, November 18, 2009

HARAP



HARAP
Buah Pena: Yuliana XI IPA




Malam yang gelap telah datang
Nyala api menyinari tempat mu
Mataku terfokus padamu
Di setiap gerakanmu
Aku mencintaimu


Ku melihat kembali kau masih disana
Memoriku hanya terpaku padamu
Aku ingin memelukmu
Walaupun Sedikit harapanku
Tetapi itu tak mungkin


Dari jauh ku terus melihatmu
Menyembunyikan perasaanku
Tapi ku berharap kau menyadarinya
Bahwa aku mencintaimu
Dengan seluruh jiwaku

RASA



RASA
Buah Pena: Yuliana XI IPA




Ketika Aku melupakan cara tuk tersenyum
Kau datang dan memberiku bahagia
Ketika Aku melupakan cara tuk maju
Kau datang mendorongku menuju cita


Namun, kini Ku kehilangan rasa itu
Ku kehilangan cara tuk mencintaimu
Kau lepaskanku dengan pasrah
Tapi rasanya sakit masih tertinggal


Ku tak sanggup melihatmu pergi
Ku tak sanggup melihat punggungmu menjauh
Aku takut kau tak berpaling kembali
Beribu harap kuteriakan ke jalan yang Kau tapaki
Tapi Kau tak menyahut dan tak kembali
Apakah Aku kehilanganmu?


RINDU




RINDU
Buah Pena: Yuliana XI IPA




Gerhana menghalangi pandanganku
Menggelapkan tempatmu berdiri
Ketika cahaya menggapai kembali
Kau telah pergi


Kau pergi secara diam-diam
Bahkan anginpun tak mendengar langkahmu
Aku berharap semua ini hanyalah mimpi
Namun, sebuah kenyataan abadi yang menghampiri


Aku kembali berdiri disana
Memejamkan mata dan menanti langkahmu mendekat
Berharap...
Namun hanyaku dengar riak air
Hanya kudengar debu mengalun
Pada akhirnya aku meneteskan air mata
Dan tersadar bahwa kau telah tiada...selamanya...






guruku ...


KREATIVITAS DARI GURUKU
Miss Anissa


“Semua orang bisa menggambar” itulah yang ingin diwujudkan oleh Miss Anisa (29) guru seni budaya di Yayasan Teratai Putih. Lahir di Jakarta pada 06 September 2009 silam, dan telah jatuh cinta pada seni sejak ia kecil. “Seni itu sulit”’ itulah yang terlintas di pikiran siswa/i Teratai Putih dulu, kini semuanya telah terbalik.
Lulus dari ITB jurusan seni rupa dan design mengantarkannya menjadi guru di Teratai Putih, mengajar di SD, SMP, SMA, dan STM Teratai Putih dan berpengalaman sebagai asisten dosen di ITB. Ia adalah single parent dari seorang anak laki-laki, Miss Anissa memiliki hobi bersepeda, “Bike to work” adalah kesenangannya walaupun membutuhkan waktu 40-45 menit dari rumahnya di Graha Kebayoran untuk sampai ke sekolah.
Selain mengajar, ia juga menulis buku yang berjudul menggambar untuk usia 7-12 tahun. “Mengenalka cara berpikir visual pada siswalah yang tersulit” adalah kesulitan yang ia rasakan ketika mengajar.
Seni adalah kreativitas, mencari ide-ide baru, briliant, dan radikal.” Kata Miss Anissa, sebuah pengertian yang luar biasa tentang seni. Miss Anissa menyukai seni karena berhubungan dengan kreativitas, mencari ide-ide baru, dan mendapatkan jawaban atau kemungkinan dari satu, berbeda dengan ilmu pastilainnya, baginya seni itu penting.




Kamis, November 12, 2009

benua yang hilang ?





Benarkah Indonesia adalah benua Atlantis yang hilang?
Musibah alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?

Plato (427 – 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.

Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.


Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.


Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh. Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil it berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.” Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.


Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaula internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya.